Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Desember 2014
Arti Sahabat Sejati
Satu Kisah Persahabatan yang bisa menjadi Inspirasi kita tentang Arti Sahabat Sejati. Langsung aja dibaca dan resapi Cerpen Sedih Tentang Persahabatan berikut:
"Sahabat Terbaik"
"Persahabatan bukan hanya sekedar kata,
yang ditulis pada sehelai kertas tak bermakna,
tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci,
yang ditoreh diatas dua hati,
ditulis dengan tinta kasih sayang,
dan suatu saat akan dihapus dengan tetesan darah dan mungkin nyawa"..
**
“Key… sini dech cepetan, aku ada sesuatu buat kamu”, panggil Nayra suatu sore.
“Iya, sebentar, sabar dikit kenapa sich?, kamu kan tau aku gak bisa melihat”, jawab seorang gadis yang dipanggil Key dari balik pintu.
Keynaya Wulandari, begitulah nama gadis tadi, meskipun lahir dengan keterbatasan fisik, dia tidak pernah mengeluh, semangatnya menjalani bahtera hidup tak pernah padam. Lahir dengan kondisi buta, tidak membuatnya berkecil hati, secara fisik matanya tidak bisa melihat warna-warni dunia, tapi mata hatinya bisa melihat jauh ke dalam kehidupan seseorang. Mempunyai hoby melukis sejak kecil, dengan keterbatasannya, Key selalu mengasah bakatnya. Tak pernah sedikitpun dia menyerah.
Duduk di bangku kelas XII di sebuah Sekolah Luar Biasa di kotanya, Keynaya tidak pernah absen meraih peringkat dikelas, bahkan guru-gurunya termotivasi dengan sifat pantang menyerah Key. Sejak baru berusia 3 tahun, Keynaya sudah bersahabat dengan anak tetangganya yang bernama Nayra Amrita, Nayra anak seorang direktur bank swasta di kota mereka. Nayra cantik, pinter dan secara fisik Nayra kelihatan sempurna.
***
Seperti sore ini, Nayra sudah nangkring di rumah Key. Dia berbincang-bincang dengan Key, sambil menemani sahabatnya itu melukis.
“Key, lukisan kamu bagus banget, nanti kamu ngadain pameran tunggal ya, biar semua orang tau bakat kamu”, kata Nayra membuka pembicaraan.
“Hah”, Key mendesah pelan lalu mulai bicara, “Seandainya aku bisa Nay, pasti sudah aku lakukan, tapi apa daya, aku ini gak sempurna, seandainya aku mendapat donor kornea, dan aku bisa melihat, mungkin aku bahagia dan akan mengadakan pameran lukisan-lukisanku ini” ucap Keynaya dengan kepedihan.
“Suatu hari nanti Tuhan akan memberikan anugrahnya kepadamu, sahabat, pasti akan ada yang mendonorkan korneanya untuk seorang anak sebaik kamu,” timpal Nayra akhirnya.
Berbeda secara fisik, tidak pernah menjadi halangan di dalam jalinan persahabatan antara Nayra dan Keynaya, kemana pun Nayra pergi, dia selalu mengajak Key, kecuali sekolah tentunya, karena sekolah mereka berdua kan berbeda.
Sedang asik-asiknya dua sahabat ini bersenda gurau, tiba-tiba saja Nayra mengeluh,
“aduuh, kepala ku”
“Kamu kenapa Nay, sakit??” tanya Keynaya.
“Oh, ngga aku gak apa-apa Key, Cuma sedikit pusing saja”, ucap Nayra sambil tersenyum.
“Minum obat ya Nay, aku gak mau kamu kenapa-napa, nada bicara Key terdengar begitu khawatir.
“aku ijin pulang dulu ya Key, mau minum obat” ujar Nayra sambil berpamitan pulang.
Di kamarnya yang terkesan sangat elegan, nuansa coklat mendominasi di setiap sudut ruangan, Nayra terduduk lemas di atas ranjangnya,
“Ya Tuhan, berapa lama lagi usiaku di dunia ini?? Berapa lama lagi malaikatmu akan menjemputku untuk menghadapmu?” erang hati Nayra.
Di vonis menderita leukimia sejak 7 bulan lalu dan tidak akan berumur lama lagi sungguh menyakitkan bagi Nayra, usianya yang baru 18 tahun, dengan segudang cita-cita yang dia inginkan, sudah pasti tak satupun akan terwujud.
***
Pintu kamar Nayra tiba-tiba terbuka, seorang wanita cantik paruh baya masuk lalu duduk disampingnya.
“Gimana rasanya sayang? Masih gak enak?? Kita ke dokter sekarang yuk!!!” ujar wanita itu dengan lembutnya.
“ngga usah, ma, aku sudah enakan kok, aku cuma mau beristirahat saja”, jawab Nayra dengan sopan.
“ya sudah kalau begitu, mama tinggal dulu ya, istirahat ya, Nak,” ujar sang mama sambil mencium kening putri semata wayangnya.
“Makasih ma, aku selalu sayang mama,” lirih Nayra berujar.
Terus terang Nayra sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya, tapi dia berusaha menyembunyikan itu dari orang tuanya.
Di ruang keluarga, ibu Rita, duduk sambil menemani sang suami sepulangnya dari kantor,
“Ma, Nayra kemana?? Kok papa gak melihatnya dari tadi?” tanya sang suami.
“Nayra lagi istirahat pa, dia pusing dan mengeluh sakit dari tadi”, jawab Rita.
“Sakit apa sebenarnya anak kita ma?? Kalau kita ajak ke dokter dia selalu menolak, papa rasa ada yang dia sembunyikan dari kita, aku takut penyakitnya parah,” dengan nada khawatir pak Artawan bicara dengan istrinya.
“entahlah pa, mama juga bingung” ujar istrinya lagi.
***
Ternyata sakit yang dirasakan Nayra sore itu adalah pertanda dia akan segera di panggil menghadap Tuhan, saat minta ijin untuk istirahat pada mamanya, kesehatan Nayra benar-benar drop, dengan panik kedua orang tua Nayra melarikan putrinya ke rumah sakit, setelah mendapat penanganan oleh tim dokter, Nayra sedikit terlihat tenang, namun mukanya terlihat pucat, sinar matanya terlihat begitu redup.
“Pak Artawan, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya”, kata dokter Gunawan, yang juga merupakan dokter pribadi keluarga Artawan.
“Baiklah dok, “ sambut pa Artawan.
Setelah pak Artawan dan ibu Rita duduk di ruangan dokter Gunawan, mereka akhirnya mulai bicara,
“Maafkan saya sebelumnya pak, sebenarnya saya sudah tau penyakit yang diderita putri bapak sejak 7 bulan lalu, tapi karena putri bapak menyuruh saya merahasiakan penyakitnya kepada bapak dan ibu, saya gak bisa berbuat apa-apa. Putri bapak terkena leukimia,” ujar dokter Gunawan lirih.
Cukup lirih memang kata-kata dokter Gunawan, tapi mampu membuat jantung pak Artawan dan istrinya berdetak lebih cepat dari biasanya,
“Apa?? Leukemia? Separah apa dok??” keras nada suara pak Artawan.
“sudah parah pak, umur Nayra tidak akan lama” sambung dokter kembali.
Setelah berbicara lama dengan dokter, air mata tak pernah berhenti mengalir di pipi Rita. Dia begitu terpukul mendengar putrinya menderita penyakit itu.
“udah, ma, jangan nangis terus, pengobatan Nayra akan diusahakan, kita akan mengusahakan kesembuhannya, lebih baik kita berdoa, semoga Tuhan memberikan jalan terbaik buat keluarga kita”, hibur pak Artawan.
“mari kita tengok Nayra!!” ajaknya lagi.
Memasuki ruangan perawatan, ibu Rita berusaha menyembunyikan air matanya, dia tersenyum penuh kepedihan di samping ranjang putrinya,
“Mama, kenapa? Kok sedih begitu?” ujar Nayra lirih.
“Gak apa-apa sayang”, berbisik ibu Rita tak kuasa menahan air matanya.
“Maafkan Nayra, Ma, Pa, Nayra tak bermaksud membuat Mama dan Papa terluka seperti ini, Nayra hanya tak ingin menyusahkan kalian” Nayra berkata dengan terbata-bata.
Belum ada beberapa menit pak Artawan dan ibu Rita di kamar putrinya, tiba-tiba Nayra kejang-kejang. Dengan panik pak Artawan memanggil dokter Gunawan. Dokter Gunawan menangani Nayra lumayan lama, hingga akhirnya dokter Gunawan keluar, muka beliau kelihatan sangat sedih.
“Bagaimana anak saya, dok?” tanya pak Artawan.
“Maaf pak, kami disini sudah berusaha yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain, Nayra sudah dipanggil menghadapNya” ucap dokter.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk”, teriak ibu Rita isteris,“ Nayra tidak mungkin meninggal, Nayra masih hidup,” seluruh pengunjung rumah sakit menoleh ke arah mereka.
“Pak, sebelum meninggal, Nayra menitipkan ini ke saya, ini buat bapak dan ibu” imbuh dokter Gunawan sebelum mohon diri.
Sepeninggal Dokter Gunawan, pak Artawan dan istrinya membuka amplop kecil dari Nayra, isinya ternyata surat.
“Mama, papa, maafin Nayra sudah membuat mama dan papa jadi sedih, Nayra mohon sama mama dan papa, setelah Nayra meninggal, tolong berikan kornea mata Nay untuk Keynaya, tapi jangan bilang itu dari Nayra sebelum Keynaya benar-benar operasi dan bisa melihat lagi, dan satu lagi, mama tolong kasih Keynaya surat yang Nayra simpan di laci meja belajar Nayra yang amplopnya berwarna pink setelah Keynaya melihat nanti, dan surat buat mama dan papa ada di dalam amplop biru di laci yang sama. Sekian dulu Mama, papa, maaf kalau Nayra selalu ngerepotin kalian, Nayra sayang kalian, big kis & hug.. muacch”..
Nayra Amrita
Selain sepucuk surat itu, ada lagi sebuah surat pernyataan pendonoran kornea mata yang telah lengkap dengan tanda tangan Nayra. Hati orang tua Nayra tersayat, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain memenuhi permintaan terakhir sang anak.
***
Sementara itu, di rumah Keynaya, tampak gadis cantik itu tengah duduk seorang diri di teras rumahnya. Wajahnya tampak sedikit murung,
“kemana si Nayra, sudah lebih dari 5 hari dia gak main ke sini, apa dia baik-baik saja?” gumamnya.
“Ma, Nayra pernah kesini gak dalam beberapa hari ini?” tanya Keynaya ke pada mamanya.
“Gak ada, Key, memang kenapa?” tanya sang mama.
“Gak apa-apa ma, aku ke rumah Nayra sebentar ya!!” Key meminta ijin ke mamanya.
Tapi diluar dugaan, mama Keynaya melarangnya pergi.
“Jangan Key, kita harus ke rumah sakit sekarang juga, tadi mama ditelepon sama pihak rumah sakit, katanya ada yang menyumbangkan korneanya khusus untuk kamu,” dengan tutur kata yang lembut mamanya menjelaskan.
“Yang bener, Ma? Key sudah dapat donor kornea?? Asik-asik, Key akan segera bisa melihat wajah Nayra, Key bisa segera menggelar pameran lukisan,” ucap Key berapi-api.
“Iya nak” jawab mamanya penuh kepedihan. “seandainya kamu tahu sayang, Nayra tak mungkin ada disamping kamu lagi, Nayra sudah tenang dialam sana, dan seandainya kamu tahu siapa orang yang mendonorkan korneanya untuk kamu” kata ibu Rasti dalam hati.
Waktu berjalan begitu cepat, operasi cangkok kornea sudah dilaksanakan dan sekarang adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Keynaya, perban di matanya akan di buka, tim dokter beserta kedua orang tua Key sudah ada di ruangan Key. Sebelum perbannya di buka, Keynaya berujar,
“Ma, Pa, Nayra sudah datang?? Ku ingin sekali ada Nayra di sini pas aku bisa melihat”
“belum sayang, Nayra masih diluar kota” pedih rasanya hati ibu Rasti saat berujar.
Perban akhirnya di buka, samar-samar penglihatan Keynaya mulai melihat warna, melihat sosok kedua orang tuanya, dia tersenyum, semakin lama semakin jelas,
“Mama, papa aku bisa melihat kalian,” gembira sekali suara Keynaya.
***
Sudah 1 minggu semenjak Keynaya bisa melihat, hari ini dia memaksa ibunya agar diperbolehkan melihat Nayra, mengujungi Nayra,
“Kata mama Nayra sudah ada di rumah, berarti Key boleh main donk Ma, Key pingin ngajak Nayra jalan-jalan buat merayakan kesembuhan Key,”
“Iya, nak, mama sama papa temenin kamu ya!!”
Berbeda beberapa rumah antara Nayra dan Keynaya merupakan hal yang membahagiakan, tidak perlu capek-capek bermacet-macet ria di jalanan untuk mengunjunginya. Sesampai di rumah Nayra mereka disambut ramah oleh keluarga Nayra yang kebetulan lagi ada di rumah.
“Selamat sore tante Rita’” sapa Keynaya dengan senyum sumringah.
Setelah di persilahkan duduk dan menikmati hidangan ala kadarnya, Keynaya menanyakan keberadaan sahabat karibnya,
“mana Nayranya tante?? Kok gak kelihatan ada di rumah?”
“Nayranya… Nayra.. Nayra..” dengan terbata-bata ibu Rita menjawab.
“Nayra kenapa tante, kemana?? Nayra tidak apa-apa kan?” bertubi-tubi Keynaya bertanya.
Ibu Rita tak kuasa menjawab, beliau meninggalkan tamunya di ruang tamu dan berlari naik ke kamar Nayra, mengambil sepucuk surat yang dititipkan Nayra untuk Keynaya. Ibu Rita kembali ke ruang tamu dengan sepucuk surat di tangan,
“ini dari Nayra untuk kamu” ujarnya berlinang air mata kepada Keynaya.
Dengan tangan gemetar Keynaya membuka amplop berwarna pink yang cantik itu, ada pita pink juga di sudut amplonya.
Dear Keynaya
“Keynaya sayang, sahabatku yang paling baik, apa kabar hari ini?? Baik-baik sajakah?? Sehat-sehat?? Semoga sehat ya!! Key, saat kau membaca surat dari aku ini, mungkin aku sudah tak ada lagi di dunia ini, tak ada di samping kamu, tak bisa menemani kamu bermain, bercanda dan tertawa, maafkan aku ya Key.
Key sayang, sebenarnya aku ingin sekali cerita ke kamu tentang penyakitku, tapi aku takut membuat kamu kepikiran terus, takut buat kamu gelisah. Sebenarnya aku terkena penyakit leukemia, Key dan umurku tidak akan lama lagi.
Key sayang, meskipun aku telah pergi dari sisi kamu, tapi rasa sayang aku ke kamu tak akan pernah berubah, kamu sahabat terbaik di hidupku, kamu tempatku berkeluh kesah, tempatku menumpahkan suka dan duka. Key, ku tahu saat kau membaca ini, kau sudah bisa melihat indahnya dunia, sengaja ku berikan mataku untuk kamu Key, hanya itu yang bisa aku berikan, jaga mata itu seperti kau menjaga persahabatan kita.
Segitu dulu Key, maafkan aku karena harus pergi meninggalkanmu, terima kasih karena sudah memberikan aku arti selama hidup di dunia. Sampai ketemu suatu saat nanti Key, aku sayang kamu sahabatku.
Kiss and big hug my lovely friend, my best friend in my life….muaaachh…
Dariku yang selalu menyayangimu
Nayra Amrita
Air mata mengalir deras di pipi Keynaya,
“ini tidak mungkin” katanya lirih. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar tak percaya, sahabatnya sudah kembali ke pangkuan Tuhan, Keynaya menatap selembar foto yang juga ada di dalam amplop surat tadi, foto Nayra tersenyum manis ke arahnya, mata Nayra yang teduh, sekarang ada padanya. Keynaya meminta agar kedua orang tua Nayra mengantarnya ke kuburan.
Lumayan jauh dari rumah Nayra, kaki Keynaya lemah, tapi dia berusaha mengikuti langkah kaki orang tuanya dan orang tua Nayra ke sebuah makan yang begitu tertata rapi, taburan bunga masih segar, tanah pekuburannya juga masih basah.
Sebuah Nisan yang begitu cantik dihadapan Keynaya, membuatnya semakin terluka, jelas tersurat di batu nisan berwarna putih itu nama sahabat karibnya.
“Nayra Amrita Artawan”
Lahir 8 Januari 1994
Wafat 14 April 2011
Berjongkok Keynaya membelai nisan itu, gerimis turun membasahi nisan, semakin lama semakin deras, sederas airmata yang jatuh di pipi Keynaya,
“kenapa secepat ini kau tinggalkan aku, Nay?? Tega kamu?? Meninggalkan aku seorang diri disini.” Nayra, terima kasih sayang, kau telah memberikan aku sepasang mata untuk melihat dunia ini, terima kasih karena telah mengajariku tentang ketulusan sebuah persahabatan, terima kasih atas senyum termanis yang pernah kau hadirkan di hidupku” ucap Keynaya sambil terisak lirih di atas nisan.
Tangan lembut ibu Rasti terulur ke arah putrinya,
“Bangun Key, sudah, ikhlaskan saja Nayra, dia sudah tenang di sana, dia sudah berada di pangkuan Tuhan, yang harus kamu tahu, Nayra tak pernah ingin kamu cengeng, kamu harus tetap semangat menjalani hidup kamu,” bimbing ibu Rasti.
“iya ma, terima kasih, aku hanya sedih saja, tapi aku janji gak akan cengeng lagi setelah hari ini”, kata keynaya.
***
Minggu, 19 Oktober 2014
Kangen
KAK RASYID
kak gausah sok si kak, klo udh sms di bales trus gadibales lg! ngeselin lo kakakini-_-
Jumat, 17 Oktober 2014
#throwback
Lelah. kata itu yang selalu terfikirkan oleh ku. aku lelah dengan semua ini,aku lelah untuk tetap sabar :')
sabar...sabar....dan sabar. hanya itu yang aku lakukan untuk menunggu dia.
menunggu seseorang yang aku cintai dan ternyata kita hanya 3 bulan saja, sedih sih aku sayang dia bahkan ngareeeeeeppp banget sama dia:)
#flashback
waktu itu hari sabtu,aku pergi ke tempat oma aku. tempat nya di kotabumi,lampung utara yang lebih tepatnya di kalibening:D
dibuat terkejut, setelah sampai banyak sekali orang yg lewat kesana kemari entah apa yg mereka lakukan. anehnya setiap keluar kenapa selalu di panggil *bisikbisik.
#magrib
saat itu aku diajak dengan kawan aku untuk prgi sholat magrib dimasjid apa ya...?? hem lupa:D ya itu lah ya pokoknya:v
nah ketika aku mau berwudu aku melihat sosok lelaki(bhsanypaktinggibingou:v) dia memakai baju kuning:) dia begitu tampan,mukanya terlihat bersih begitu pun hatinya:)
*lanjutlahhhhhhhh
saya ceritain ttg saya kenal dgn dia ajalah ya langsung-_- soalnya panjang hahahaha:D
pertama kenal, masih shy be shy gitu:D (yaiyalahpak-_-)
kita kenal itu kira kira udah 6 bulan;;) gak kerasa udah lama ternyata
sebutaja dia itu ryn(disamarpk)
ryn itu prnh menyatakan cintanya untuk pertama kali, da itu bikin saya senangggggggg sekali;;) senang banget. tapi kenapa si ryn itu tbtb membuat saya down tramattt sangat:') saat itu asal ryn tau tbtb air matasy menetes krn dia hanya purapura/latian untuk menyatakan cinta:') miris kan.
Ryn juga prnh mnyktakan cintanya untuk kedua kali, awalanya saya ragu dengan dia... dan saya hanya menjawab "apakah kamu serius ryn...?" lagilagi dia membuat sya down...down...down...dan teramat down.
saya binggung,saya sebal,saya kesal,saya ingin sekali marah dengan dia:')
*akhirnyaaaaaaaa........
kita jadian,ternyata dia serius:) saya senang,karena dia sangat peka dengan saya, sangat perhatian,pengertian dengan saya :). kita tidak pernah bertengkar,tidak pernah selam 3 bulan. tapiiiii, dia tidak mengerti sebenarnya:')
*setelahkitaputus................
tbtb aku selalu teringat ryn:) tbtb jg airmataini menetes jikalau saya melihat foto ryn dan mengenang ceritacerita indah yg kita jalani dulu:') sampai sekarang:)
Kamis, 02 Oktober 2014
Renungan :)
IBU BERMATA SATU
“Ibumu hanya punya satu mata?!?!” Ieeeeee, jerit seorang temanku. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu, “Bu. Mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!” Ibuku tidak menyahut.
Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.
Malam itu..
Malam itu..
Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya.
Saya memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi,
hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.
hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.
Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu.
Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak.
Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku.
Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika..
Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku. Kataku, “Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!” Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, “Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !” “KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!”
Ibuku hanya menjawab perlahan, “Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat,” dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega.
Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega.
Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura.
Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura.
Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana .. Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan ibuku tergeletak dilantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku.
“Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi..
Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau.. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku.
Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, ditempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu.
Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, “Itu karena ia mencintaiku” Anakku! Oh, anakku!”
Pesan ini memiliki arti yang mendalam dan disebarkan agar orang ingat bahwa kebaikan yang mereka nikmati itu adalah karena kebaikan orang lain secara langsung maupun tak langsung. Berhentilah sejenak dan renungi hidup Anda!
Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain! Luangkan waktu untuk mendoakan ibu Anda!
Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain! Luangkan waktu untuk mendoakan ibu Anda!
Selasa, 30 September 2014
DEMI AKU? KENAPA?
#CERPEN
Sudah satu tahun kami berpacaran, namun entah kenapa ada yang kurang dari kisah cinta ini. Seperti sesuatu yang penting telah tiada di antara kami. Tapi, aku belum mau memikirkan hal yang rumit untuk hari ini, karena kami akan pergi kencan. Ah, sudah tak sabar. Tapi, selama setahun ini, aku hanya bisa 6 kali berkencan. Apa itu hal yang wajar untuk sepasang kekasih? Meski bisa dibilang relative sedikit, namun aku bahagia. Dia gigih sekali untuk mencari nafkah. Yah, dia salah satu direktur perusahaan terkenal, maka dari itu, meski dia tidak bisa selalu bersama, namun setidaknya dia berusaha keras, salah satunya demi aku. Namanya Kyousuke, orang blasteran Indo-Jepang.
“Malam, My Sweety.” Sapa Kyousuke tak lupa cipika-cipikinya juga. “Kau terlambat 2 menit, Kyo…” balasku menyun. “Maaf. Tadi jalan macat, jadi, beginilah.” Jawab Kyousuke membuatku tertawa. “Hahaha… bukan macat, Sayang. Tapi, macet,” Kataku sambil memeluk lengan kirinya. “Ya sudah, ayo masuk.” Lanjutku, tanpa mau berbasa-basi lagi karena waktu kami yang terbatas.
“Bagaimana? Tadi filmnya bagus?” Tanya Kyousuke setelah selesai melihat film di bioskop. “Emm… iya! Film action memang keren!” jawabku dengan semangat. “Ah, maaf, Sayang. Sepertinya sudah waktunya kita berpisah.” Balas Kyousuke saat melihat jam tangannya. Dengan cepat ia cipika-cipikiku dan memberhentikan salah satu taksi yang sedari tadi berlalu lalang di hadapan kami. Saat-saat yang paling menyebalkan adalah saat ini. Saat perpisahan yang tergesa-gesa. Rasanya air mataku akan mengalir. “Haaah…” keluhku.
“Malam, My Sweety.” Sapa Kyousuke tak lupa cipika-cipikinya juga. “Kau terlambat 2 menit, Kyo…” balasku menyun. “Maaf. Tadi jalan macat, jadi, beginilah.” Jawab Kyousuke membuatku tertawa. “Hahaha… bukan macat, Sayang. Tapi, macet,” Kataku sambil memeluk lengan kirinya. “Ya sudah, ayo masuk.” Lanjutku, tanpa mau berbasa-basi lagi karena waktu kami yang terbatas.
“Bagaimana? Tadi filmnya bagus?” Tanya Kyousuke setelah selesai melihat film di bioskop. “Emm… iya! Film action memang keren!” jawabku dengan semangat. “Ah, maaf, Sayang. Sepertinya sudah waktunya kita berpisah.” Balas Kyousuke saat melihat jam tangannya. Dengan cepat ia cipika-cipikiku dan memberhentikan salah satu taksi yang sedari tadi berlalu lalang di hadapan kami. Saat-saat yang paling menyebalkan adalah saat ini. Saat perpisahan yang tergesa-gesa. Rasanya air mataku akan mengalir. “Haaah…” keluhku.
![]() |
| Demi Aku? Kenapa? |
Suatu hari, Kyousuke mengajakku ke restoran favoritnya. Entahlah, kenapa ia memanggilku. Tapi, tidak apa-apa, nikmati saja dahulu yang ada, meski aku sedikit khawatir. “Kau tahu bukan, restoran ini adalah restoran favoritku?” Tanya Kyousuke. Sepertinya ia tidak bermaksud untuk membicarakan ini, tapi membicarakan hal yang lebih serius. “Aku masih ingat jelas kau mengatakan itu satu tahun yang lalu.” Jawabku, memperlihatkan senyum bahagia. “Ah, benar juga.”
“Sebenarnya, Kyo bukan tipe orang yang suka berbasa-basi, bukan?” kataku, menatapnya. “Ah, ketahuan, ya! Saila, aku akan pulang ke Jepang.” Jawab Kyousuke membuatku terkejut. “Eh, kenapa sedih? Bukankah bagus, bisa pulang ke kampung halamannya lagi?”
“Bukan itu permasalahannya, tetapi, aku bukannya satu-dua hari di sana. Kemungkinan bisa sampai satu bulan.” Balas Kyousuke membuatku membelalakkan mata tak percaya. “Tidak apa-apa. Aku bisa kok hubungan jarak jauh.” Kataku meyakinkan. “Benarkah? Tapi kemungkinan aku akan lupa menanyakan keadaanmu karena aku akan sangat sibuk.” Aku menunduk sedih, namun sebisa mungkin aku harus tersenyum di hadapannya. “Jangan khawatir. Aku akan berusaha untuk tetap tabah.”
Pada akhirnya, kami pun berpisah di bandara Adi Soecipto. Aku melepasnya dengan senyum, namun saat pesawat telah lepas landas, air mataku pun ikut lepas landas. Kyousuke, aku akan menunggumu!
Awal dari perpisahan kami, Kyousuke berusaha keras untuk selalu mengirim e-mail padaku, namun akhir-akhir ini saat mendekati satu bulan, ia jarang mengirim e-mail lagi. Mungkin semakin sibuk, ya.
Namun, semua pemikiranku itu salah. Satu bulan telah berlalu tanpa ada kabar darinya. Padahal, di TV, koran, majalah, dan radio telah menyebarkan bahwa Direktur Kyousuke telah kembali ke Indonesia, tapi kenapa? Kenapa Kyousuke belum mengabariku sama sekali? Kenapa? Air mataku pun tumpah tak terbendung lagi. Untuk beberapa saat aku menangis. “Aku tidak boleh seperti ini terus! Aku harus mencari tahu!” seruku saat berada di depan cermin.
Aku cari di internet jadwal Kyousuke saat ini. Ah, ketemu! Basok dia akan ke Carrefour? Urusan bisnis, ya? Aku harus dapat kesempatan untuk bicara pada Kyo-ku.
“Eh!” kataku saat melihat salah satu artikel tentang Kyousuke. Aku menitikkan air mataku tak percaya. Sakit, membaca ini membuatku sedih. “Aku tak boleh percaya dengan artikel murahan ini. Tidak, itu tidak benar.” Kataku mencoba menyangkal.
Paginya pun aku langsung beraksi menyelinap berusaha mencari Kyousuke di tengah keramaian orang. Ah, itu dia! “Aku harus bisa bertemu! Aku harus bisa bertemu! Kyousuke!” kataku menyemangati diri sendiri.
“Kyousuke! Kyousuke! Kyo!!!” teriakku mengumandangkan namanya. Sepertinya terdengar. Ia berhenti sejenak. Ah, tunggu, jangan pergi! “KYOUSUKE!!!” Teriakku sekeras mungkin. Namun percuma, orang-orang di sini terlalu banyak. Akhirnya, aku akan menunggunya di luar ruangan meeting Kyousuke bersama direktur-direktur perusahaan lain.
3 jam kemudian, satu demi satu, orang-orang terkenal pun keluar dari ruangan itu. Aku lihat satu demi satu, tapi kenapa tidak ada Kyousuke? Apa masih di dalam? Aku pun tanpa pikir panjang memasuki ruangan itu, akan tetapi dicegah oleh security. Huh, menyebalkan! Kemudian, terlintaslah satu ide cemerlang! Aku memasuki ruangan itu dengan cosplay baju tukang bersih-bersih dipinjami oleh temanku yang bekerja di sini.
Wah, ruangannya cukup besar. Aku tak bisa harus berkeliling ruangan ini. Pintu keluar hanya ada satukan? Ah, bingung, harus mencari Kyo dimana. Akhirnya kuputuskan untuk mengelilingi ruangan ini, semoga Kyo belum keluar dari ruangan ini.
“Saila?” sapa Kyousuke tak percaya. Aku pun membalikkan wajahku melihat Kyousuke tak percaya. Dengan cepat aku peluk Kyousuke dengan erat. Kyousuke pun juga membalas pelukanku dengan halus. “Bisakah kau jelaskan sekarang?” tanyaku melepas pelukan. Kyousuke hanya diam menatapku. “Tentang artikel kau tak membutuhkan kekasih karena menyusahkan. Tentang kenapa kau tak mengabariku tentang kepulanganmu. Tentang … pokoknya masih banyak yang harus kau jelaskan, Kyo…” kataku meneteskan banyak air mata. “Maaf. Maaf untuk segalanya. Maaf…”
“Cukup, aku tidak butuh kata maaf saat ini! Kau pasti tahu itu, Kyo.” Kataku memeluk kembali Kyousuke. Tapi, entah kenapa Kyousuke melepaskan pelukannya. “Maaf. Aku harus terus mengatakannya,” Aku pun hanya bisa menangis. “Kita, akhiri semua ini ya, Saila?” kata-katanya merangsang air mataku untuk keluar. “Ndak… apa kau punya alasan yang tepat kenapa kau memutuskanku?” tanyaku, tak percaya. “Maaf…”
“Sudah kukatakan aku tak butuh kata maaf, Kyousuke! Besok, jam 8, datanglah ke tempat dimana kau mengajakku untuk berpacaran. Aku akan menunggumu hingga kau datang. Apa pun yang terjadi, aku akan menunggumu untuk mendengar penjelasanmu yang pasti akan berjalan cukup lama.” Kataku dengan cepat pergi sebelum mendengar jawaban yang akan dilontarkannya.
Jam setengah delapan, aku akan bersiap-siap untuk mendengar penjelasannya. Dia pasti datangkan? Aku harus optimis! “Ya, ayo semangat, Saila!” seruku menyemangati diri sendiri.
Semangatku menjadi luntur setelah menunggunya selama satu jam. “Apa pun yang terjadi, aku akan menunggunya! Dia mungkin sedang meeting, jadi mungkin akan terlambat, ya.” Kataku menghibur diri sendiri.
Tapi, kenyataannya aku tak bisa terus menunggunya di sini setelah jam sepuluh malam lewat, karena restoran ini akan tutup. Bagaimana ini? Kyousuke…
Akhirnya aku menunggunya di luar restoran itu. Aku menunggunya hingga jam dua belas. Aku tak tahan lagi, rasanya seperti menunggunya selama setahun! “Kyousuke… kau jahat. Membiarkanku menunggumu selama ini.” Keluhku menangis di pinggir jalan.
“Hei, Nona, sendirian saja? Main sama-sama, yuk!” kata seorang lelaki bersama teman-temannya yang sedang mabuk. “Maaf, tapi saya sedang menunggu pacar saya.” Jawabku menyeka air mata. “Eh, kau habis menangis? Apa pacarmu belum datang? Sudahlah? Laki-laki seperti itu jangan kau pedulikan. Ayo, main sama Kakak.” Kata laki-laki itu yang mendekatiku. “Jangan…” kataku, tapi sepertinya diabaikan oleh mereka. “Ah, apa yang kau lakukan!?” bentakku saat salah satu dari mereka memegang pundakku.
“Hei, apa yang kalian lakukan?” kata seseorang dari balik punggung orang-orang ini. “U-Ukh~” keluh mereka saat melihat orang yang akan mereka hadapi. Mereka pun langsung pergi meninggalkanku.
“Lhoh, kenapa hanya kau yang ada di sini? Dimana Kyousuke?” tanyaku terkejut melihat supir Kyousuke yang datang. “Maaf Nona, sepertinya Tuan Kyousuke tidak mungkin datang. Dan saya kemari untuk menyerahkan surat ini.” Mendengar itu, aku tertunduk tak percaya. Air mataku sekali lagi mengalir. “Kenapa kau datang selarut ini?” tanyaku dengan suara serak. “Maaf, tapi Tuan Kyousuke menyuruh saya untuk menyerahkannya saat Anda akan pulang atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Mendengar jawaban itu, air mataku mengalir semakin deras.
Aku pun duduk di pinggir jalan dengan putus asa. “Apa, menurutmu, Kyo sudah tak mencintaiku?” Tanyaku, menatap supir itu. “No, Nona… sebenarnya, Tuan Kyousuke sangat mencintai Anda, hanya saja, Beliau dipojokkan oleh para tetua.” Jawab supir itu. “Haah… mencintaiku, ya?”
“Kelihatannya Nona tidak mempercayai saya. Tapi, Anda harus tahu kenapa Tuan melakukan ini. Tuan diancam jika tidak melakukan apa yang dikatakan para tetua, Anda akan dibuat keluarga Tuan Kyousuke sengsara. Ini semua demi Anda, Nona.”
“Demi aku? Tak dapat dipercaya… bodoh… payah…” gumamku kesal. Kemudian aku pulang diantar oleh supir pribadi Kyo.
Saat di rumah air mataku mengalir saat membaca surat yang ia tulis itu.
Maaf, mungkin sekarang kau sedang menangis di suatu tempat. Kau kecewa padaku. Padahal sudah repot-repot menungguku. Tapi kali ini aku melakukan ini karena aku tidak ingin kita tidak bisa bertemu untuk selamanya. Kali ini, kita tidak bertemu, tapi lain kali kita pasti bertemu. Kumohon tunggulah aku. Aku ini memang laki-laki yang tak dapat kau andalkan, jadi, jangan maafkan aku meski aku minta berapa banyak kata maaf.
“BODOH! Kenapa kau melakukan segalanya demi aku? Seharusnya kita rundingkan bersama!!? Kau ini mikir apa, sih!? PAYAH!!”
“Kau membuatku kecewa! Aku memang tidak bisa memaafkanmu! Hiks…”
“Benci! Kau tahu, sudah berapa lama aku menunggumu di restoran itu!? Apa kau tak memikirkan perasaanku juga!?”
“Apa aku akan bahagia kau lakukan ini semua demi aku? Hiks…”
Banyak macam kata buruk yang telah kulontarkan. Meski kau sibuk, tapi setidak-tidaknya, datanglah. Kau tahu tidak Kyousuke, menunggumu sedetik di sana seperti seharian. Coba kau pikirkan, dari jam setengah delapan, aku menunggumu hingga tengah malam. Sudah berapa lam aku menunggumu? Sudah 16.200 hari aku menunggumu! Jadi, kurang lebih aku telah menunggumu 45 tahun. Kau tahu, itu waktu yang sangat lama, Kyousuke. Berkali-kali aku melihat jam dan memesan minuman untuk membunuh waktu. Tapi tak ada tanda kehadiranmu. Hampa, kesal, dan amarah ada di pikiranku saat itu.
Tahu kau tak akan datang, kenapa aku tetap menunggumu hingga larut? Aku berusaha selalu bersikap positif menunggumu, tapi kau telah merubahku! “KESAL!!!!”
Kau menyebalkan, Kyousuke! Aku kecewa padamu! Jika aku bertemu denganmu, mungkin hubungan kita akan lebih buruk dari ini.
“Sebenarnya, Kyo bukan tipe orang yang suka berbasa-basi, bukan?” kataku, menatapnya. “Ah, ketahuan, ya! Saila, aku akan pulang ke Jepang.” Jawab Kyousuke membuatku terkejut. “Eh, kenapa sedih? Bukankah bagus, bisa pulang ke kampung halamannya lagi?”
“Bukan itu permasalahannya, tetapi, aku bukannya satu-dua hari di sana. Kemungkinan bisa sampai satu bulan.” Balas Kyousuke membuatku membelalakkan mata tak percaya. “Tidak apa-apa. Aku bisa kok hubungan jarak jauh.” Kataku meyakinkan. “Benarkah? Tapi kemungkinan aku akan lupa menanyakan keadaanmu karena aku akan sangat sibuk.” Aku menunduk sedih, namun sebisa mungkin aku harus tersenyum di hadapannya. “Jangan khawatir. Aku akan berusaha untuk tetap tabah.”
Pada akhirnya, kami pun berpisah di bandara Adi Soecipto. Aku melepasnya dengan senyum, namun saat pesawat telah lepas landas, air mataku pun ikut lepas landas. Kyousuke, aku akan menunggumu!
Awal dari perpisahan kami, Kyousuke berusaha keras untuk selalu mengirim e-mail padaku, namun akhir-akhir ini saat mendekati satu bulan, ia jarang mengirim e-mail lagi. Mungkin semakin sibuk, ya.
Namun, semua pemikiranku itu salah. Satu bulan telah berlalu tanpa ada kabar darinya. Padahal, di TV, koran, majalah, dan radio telah menyebarkan bahwa Direktur Kyousuke telah kembali ke Indonesia, tapi kenapa? Kenapa Kyousuke belum mengabariku sama sekali? Kenapa? Air mataku pun tumpah tak terbendung lagi. Untuk beberapa saat aku menangis. “Aku tidak boleh seperti ini terus! Aku harus mencari tahu!” seruku saat berada di depan cermin.
Aku cari di internet jadwal Kyousuke saat ini. Ah, ketemu! Basok dia akan ke Carrefour? Urusan bisnis, ya? Aku harus dapat kesempatan untuk bicara pada Kyo-ku.
“Eh!” kataku saat melihat salah satu artikel tentang Kyousuke. Aku menitikkan air mataku tak percaya. Sakit, membaca ini membuatku sedih. “Aku tak boleh percaya dengan artikel murahan ini. Tidak, itu tidak benar.” Kataku mencoba menyangkal.
Paginya pun aku langsung beraksi menyelinap berusaha mencari Kyousuke di tengah keramaian orang. Ah, itu dia! “Aku harus bisa bertemu! Aku harus bisa bertemu! Kyousuke!” kataku menyemangati diri sendiri.
“Kyousuke! Kyousuke! Kyo!!!” teriakku mengumandangkan namanya. Sepertinya terdengar. Ia berhenti sejenak. Ah, tunggu, jangan pergi! “KYOUSUKE!!!” Teriakku sekeras mungkin. Namun percuma, orang-orang di sini terlalu banyak. Akhirnya, aku akan menunggunya di luar ruangan meeting Kyousuke bersama direktur-direktur perusahaan lain.
3 jam kemudian, satu demi satu, orang-orang terkenal pun keluar dari ruangan itu. Aku lihat satu demi satu, tapi kenapa tidak ada Kyousuke? Apa masih di dalam? Aku pun tanpa pikir panjang memasuki ruangan itu, akan tetapi dicegah oleh security. Huh, menyebalkan! Kemudian, terlintaslah satu ide cemerlang! Aku memasuki ruangan itu dengan cosplay baju tukang bersih-bersih dipinjami oleh temanku yang bekerja di sini.
Wah, ruangannya cukup besar. Aku tak bisa harus berkeliling ruangan ini. Pintu keluar hanya ada satukan? Ah, bingung, harus mencari Kyo dimana. Akhirnya kuputuskan untuk mengelilingi ruangan ini, semoga Kyo belum keluar dari ruangan ini.
“Saila?” sapa Kyousuke tak percaya. Aku pun membalikkan wajahku melihat Kyousuke tak percaya. Dengan cepat aku peluk Kyousuke dengan erat. Kyousuke pun juga membalas pelukanku dengan halus. “Bisakah kau jelaskan sekarang?” tanyaku melepas pelukan. Kyousuke hanya diam menatapku. “Tentang artikel kau tak membutuhkan kekasih karena menyusahkan. Tentang kenapa kau tak mengabariku tentang kepulanganmu. Tentang … pokoknya masih banyak yang harus kau jelaskan, Kyo…” kataku meneteskan banyak air mata. “Maaf. Maaf untuk segalanya. Maaf…”
“Cukup, aku tidak butuh kata maaf saat ini! Kau pasti tahu itu, Kyo.” Kataku memeluk kembali Kyousuke. Tapi, entah kenapa Kyousuke melepaskan pelukannya. “Maaf. Aku harus terus mengatakannya,” Aku pun hanya bisa menangis. “Kita, akhiri semua ini ya, Saila?” kata-katanya merangsang air mataku untuk keluar. “Ndak… apa kau punya alasan yang tepat kenapa kau memutuskanku?” tanyaku, tak percaya. “Maaf…”
“Sudah kukatakan aku tak butuh kata maaf, Kyousuke! Besok, jam 8, datanglah ke tempat dimana kau mengajakku untuk berpacaran. Aku akan menunggumu hingga kau datang. Apa pun yang terjadi, aku akan menunggumu untuk mendengar penjelasanmu yang pasti akan berjalan cukup lama.” Kataku dengan cepat pergi sebelum mendengar jawaban yang akan dilontarkannya.
Jam setengah delapan, aku akan bersiap-siap untuk mendengar penjelasannya. Dia pasti datangkan? Aku harus optimis! “Ya, ayo semangat, Saila!” seruku menyemangati diri sendiri.
Semangatku menjadi luntur setelah menunggunya selama satu jam. “Apa pun yang terjadi, aku akan menunggunya! Dia mungkin sedang meeting, jadi mungkin akan terlambat, ya.” Kataku menghibur diri sendiri.
Tapi, kenyataannya aku tak bisa terus menunggunya di sini setelah jam sepuluh malam lewat, karena restoran ini akan tutup. Bagaimana ini? Kyousuke…
Akhirnya aku menunggunya di luar restoran itu. Aku menunggunya hingga jam dua belas. Aku tak tahan lagi, rasanya seperti menunggunya selama setahun! “Kyousuke… kau jahat. Membiarkanku menunggumu selama ini.” Keluhku menangis di pinggir jalan.
“Hei, Nona, sendirian saja? Main sama-sama, yuk!” kata seorang lelaki bersama teman-temannya yang sedang mabuk. “Maaf, tapi saya sedang menunggu pacar saya.” Jawabku menyeka air mata. “Eh, kau habis menangis? Apa pacarmu belum datang? Sudahlah? Laki-laki seperti itu jangan kau pedulikan. Ayo, main sama Kakak.” Kata laki-laki itu yang mendekatiku. “Jangan…” kataku, tapi sepertinya diabaikan oleh mereka. “Ah, apa yang kau lakukan!?” bentakku saat salah satu dari mereka memegang pundakku.
“Hei, apa yang kalian lakukan?” kata seseorang dari balik punggung orang-orang ini. “U-Ukh~” keluh mereka saat melihat orang yang akan mereka hadapi. Mereka pun langsung pergi meninggalkanku.
“Lhoh, kenapa hanya kau yang ada di sini? Dimana Kyousuke?” tanyaku terkejut melihat supir Kyousuke yang datang. “Maaf Nona, sepertinya Tuan Kyousuke tidak mungkin datang. Dan saya kemari untuk menyerahkan surat ini.” Mendengar itu, aku tertunduk tak percaya. Air mataku sekali lagi mengalir. “Kenapa kau datang selarut ini?” tanyaku dengan suara serak. “Maaf, tapi Tuan Kyousuke menyuruh saya untuk menyerahkannya saat Anda akan pulang atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Mendengar jawaban itu, air mataku mengalir semakin deras.
Aku pun duduk di pinggir jalan dengan putus asa. “Apa, menurutmu, Kyo sudah tak mencintaiku?” Tanyaku, menatap supir itu. “No, Nona… sebenarnya, Tuan Kyousuke sangat mencintai Anda, hanya saja, Beliau dipojokkan oleh para tetua.” Jawab supir itu. “Haah… mencintaiku, ya?”
“Kelihatannya Nona tidak mempercayai saya. Tapi, Anda harus tahu kenapa Tuan melakukan ini. Tuan diancam jika tidak melakukan apa yang dikatakan para tetua, Anda akan dibuat keluarga Tuan Kyousuke sengsara. Ini semua demi Anda, Nona.”
“Demi aku? Tak dapat dipercaya… bodoh… payah…” gumamku kesal. Kemudian aku pulang diantar oleh supir pribadi Kyo.
Saat di rumah air mataku mengalir saat membaca surat yang ia tulis itu.
Maaf, mungkin sekarang kau sedang menangis di suatu tempat. Kau kecewa padaku. Padahal sudah repot-repot menungguku. Tapi kali ini aku melakukan ini karena aku tidak ingin kita tidak bisa bertemu untuk selamanya. Kali ini, kita tidak bertemu, tapi lain kali kita pasti bertemu. Kumohon tunggulah aku. Aku ini memang laki-laki yang tak dapat kau andalkan, jadi, jangan maafkan aku meski aku minta berapa banyak kata maaf.
“BODOH! Kenapa kau melakukan segalanya demi aku? Seharusnya kita rundingkan bersama!!? Kau ini mikir apa, sih!? PAYAH!!”
“Kau membuatku kecewa! Aku memang tidak bisa memaafkanmu! Hiks…”
“Benci! Kau tahu, sudah berapa lama aku menunggumu di restoran itu!? Apa kau tak memikirkan perasaanku juga!?”
“Apa aku akan bahagia kau lakukan ini semua demi aku? Hiks…”
Banyak macam kata buruk yang telah kulontarkan. Meski kau sibuk, tapi setidak-tidaknya, datanglah. Kau tahu tidak Kyousuke, menunggumu sedetik di sana seperti seharian. Coba kau pikirkan, dari jam setengah delapan, aku menunggumu hingga tengah malam. Sudah berapa lam aku menunggumu? Sudah 16.200 hari aku menunggumu! Jadi, kurang lebih aku telah menunggumu 45 tahun. Kau tahu, itu waktu yang sangat lama, Kyousuke. Berkali-kali aku melihat jam dan memesan minuman untuk membunuh waktu. Tapi tak ada tanda kehadiranmu. Hampa, kesal, dan amarah ada di pikiranku saat itu.
Tahu kau tak akan datang, kenapa aku tetap menunggumu hingga larut? Aku berusaha selalu bersikap positif menunggumu, tapi kau telah merubahku! “KESAL!!!!”
Kau menyebalkan, Kyousuke! Aku kecewa padamu! Jika aku bertemu denganmu, mungkin hubungan kita akan lebih buruk dari ini.
Senin, 29 September 2014
A LETTER FROM ALLAH
Saat kau bagun di pagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan “berbicara” kepada –Ku walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapat-Ku ataupun bersyukur kepada-Ku atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam kehidupanmu hari ini atau kemarin. Tetapi aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja. Aku kembali menanti saat kau bersiap. Aku tahu, akan ada sedikit waktu bagimu untuk “menyapa”-Ku. Tetapi juga engkau masih terlalu sibuk.
Disuatu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama limabelas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian, Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir, mungkin engkau akan “berbicara” kepada-Ku, tetapi engkau malah berlari ke telepon dan berbicara dengan seorang teman tenteng gosip-gosip terbaru.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu, aku berpikir, engkau terlalu sibuk untuk “mengucapkan” sesuatu kepada-Ku.
Sebelum makan siang, aku melihatmu memandang sekeliling. Mungkin engkau merasa malu untuk “berbicara” kepada-Ku, itulah mengapa engkau tidak menunudukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja di sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut nama-Ku dengan lembut sebelum menyantap rizki yang Aku berikan. Tapi engkau tidak melakukannya.
Yah, tak apa. Masih ada waktu yang tersisa dan aku berharap ada waktu “berbicara” kepada-Ku, meskipun saat engkau pulang kerumah, kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau malah menyalakan tv, entah apa yang kau suka nemonton atau tidak. Hanya saja engkau selalu kesana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya tanpa memikirkan apapun. Hanya menikamti acara yang ditampilakan. Kembali Aku menanti saat engkau menonton tv dan menikmati makananmu. Tetapi kembali engkau tidak “berbicara” kepada-Ku
Saat tidur, Aku berpikir kau terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu.engkau melompat ke tempat tidur dan terlelap tanpa sepatah katapun menyebut nama-Ku. Tidak apa-apa, mungkin engkau tidak menyadari bahwa aku selalu hadir untukmu.
Aku bersabar terlalu lama dari yang engkau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar kepada orang lain. Aku sangat menyayangimu. Setiap hari Aku menanti sepatah kata, do’a, pikiran, atau syukur dari hatimu.
Baiklah engkau bangun kembali dan kembali Aku menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan mempunyai sedikit waktu untuk “menyapa”-Ku. Tapi, yang Kutunggu-tunggu tak jua datang. Kau tak pernah menyapa-Ku … Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, dan shubuh lagi. Kau jua masih mengacuhkan Aku.
Tak ada sepatah kata. Tak ada seucap do’a. Dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepada-Ku.
Apa salah-Ku kepadamu?
Rizki yang Kulimpahkan, kesehatan yang Kuberikan, harta yang Kuamanatkan, makanan yang Kuhidangkan, apakah itu tidak membuatmu ingat kepada-Ku?
Percayalah, Aku selalu mengasihimu dan akuberharap suatu saat kau akan “menyapa”-Ku, memohon perlindungan-Ku, bersujud menghadap-Ku yang selalu menyertaimu setiap saat … Allah Swt.
#Suratelektronikbuatpapa
Ku
pastikan aku memang jarang bertemu ayah di banding ibu lantaran ayah bekerja di
luar rumah, dan pulang ketika kami sama-sama letih untuk berbicara satu sama
lainya.
Tapi
aku percaya mungkin ibu yg kerap menelvon dan menanyakan keadaan ku setiap hari
tapi aku tau sebenarnya ayahlah yg menyuruh ibu untuk menelvon ku.
Semasa
kecil ibukulah yang sering mengdendongku tapi aku tau ketika ayah pulang
bekerja dengan wajah yang letih.
Ayah
selalau menanyakan apa yang aku lakukan seharian.
Walau
beliau tak bertanya kepada ku secara langsung karena sangking letihnya mencari
nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku. Ku tau ia kecup keningku
dalam tidurku.
Saat
aku demam ayah membentak sudah di beri tahu jangan minum es. Lantas aku
merengut menjauhi ayah ku dan dan menangis didepan ibu, tapi aku tau ayah lah
yang risau dengan keadaan ku tapi beliau hanya bisa menggigit bibir menahan
kesakitan ku. Ketika malam aku meminta untk keluar malam dengan tegas ayah
berkata tidak boleh. sadar ayahku hanya ingin menjaga ku, dan beliau yang lebih
tau apa yang ada di luar karena bagi ayah aku adalah sesuatu yang berharga.
Saat aku sudah di percaya olehnya ayah pun melongarkan peraturann nya maka aku
kadang melonggar kan kepercayaannya. Hanya ayah lah yang setia menunggu diruang
tamu dengan rasa sangat risau bahkan samapai menyuruh ibu mengontak teman teman
ku untuk menanyakan ke adaan ku diamana dan sedang apa di luar. Setelah dewasa
walaupun hanya ibu yang mengantarkan ku kesekolah untuk belejar tapi aku tau ayahku yang
berkata “bu temani anak mu, aku akan mencari nafkah untuk kita bersama” disaat
aku merengek meminta ini itu untuk keperluan sekolahku ayah hanya mengerutkan
dahi tanpa menolak beliau memenuhinya dan Cuma berfikir kemana aku harus
mencari uang tambahan padahal gajih ku paspasan.
Dan
tak ada tempat lagi untuk meminjam. Saat aku percaya ayah adalah orang pertama
yang berdiri dan bertepuk tangan untuk ku. Ayahlah yang mengabarai saudara” ku
anak ku sekarang sudah sukses. Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan doa
ibu. Cuman beda nya ayah simpan doa itu didalam hati nya. Saat aku lulus ayah
sempat tersenyum manis aku sempat menengok. Ayah sempat berlari ke belakang dan
menangis.ayah menangis karena ia sangat bahagia dan berdoa ya tuhan sekarang
tugas ku sudah selesai dengan baik bahagiakan putra putri kecilku yang manis.
Ku akhiri tulisan ku ini dengan bait lagu Untuk ayah tercinta aku ingin
bernyanyi dengan air mata di pipiku ayah dengarkan lah aku ingin berjumpa walau
hanya dalam mimpi .
Minggu, 28 September 2014
#Sakitnyatuhdisini (╥﹏╥)
Audi Marisa
Sakitnya tuh di sini Melihat kau selingkuh
Sakitnya tuh di sini Pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini Kau menduakan aku
Teganya hatimu
Permainkan cintaku
Sadisnya caramu
Mengkhianati aku
Sakitnya hatiku
Hancurnya jiwaku Di depan mataku
Kau sedang bercumbu
Sakitnya tuh di sini Di dalam hatiku
Sakitnya tuh di sini Melihat kau selingkuh
Sakitnya tuh di sini Pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini Kau menduakan aku
Sakit sakit sakitnya tuh di sini
Sakit sakit sakitnya tuh di sini
Teganya hatimu
Permainkan cintaku
Sadisnya caramu
Mengkhianati aku
Sakitnya hatiku
Hancurnya jiwaku Di depan mataku
Kau sedang bercumbu
Sakitnya tuh di sini Di dalam hatiku
Sakitnya tuh di sini Melihat kau selingkuh
Sakitnya tuh di sini Pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini Kau menduakan aku
Sakit sakit Sakitnya tuh di sini
Sakit sakit Sakitnya tuh di sini
Langganan:
Postingan (Atom)

